Variasi Bahasa Berdasar pada Tingkat Keformalan




Variasi Bahasa Berdasar pada Tingkat Keformalan

        Berdasar pada tingkat keformalan bahasa, ada lima macam variasi bahasa. Kelima macam variasi bahasa itu,sebagaimana yang telah disebutkan diatas adalah variasi baku, resmi, usaha, santai dan variasi akrab. Variasi bahasa baku merupakan variasi bahasa yang paling formal, lazim digunakan dalam situasi-situasi khitmat dan upacara-upacara resmi, misalnya upacara kenegaraan,keagamaan,sumpah jabatan,perjanjian jual –beli, surat keputusan dan lain sebagainya. Variasi bahasa baku menggunakan pola dan kaidah bahasa yang mantap, tetap, baku dan tidak boleh diubah-ubah.

Variasi Bahasa Berdasar pada Sarana
         
        Berdasar pada saranayang digunakan dalam berinteraksi, variasi bahasa terbagi atas variasi bahasa lisan dan tulis. Variasi bahasa lisan dapat berupa antara lain: pidato tanpa teks dalam upacara perkawinan, upacara pembukaan olahraga, diskusi, penjual jamu dipasar-pasar, para salesman yang menjual produknya kepada ibu-ibu rumahtangga dan lain sebagainya. Variasi bahasa tulis dapat beupa surat kabar, skripsi dan lain sebagainya.

Tipologi variasi bahasa

        Kajian tipe bahasa dapat berdasar pada dua asumsi kajian bahasa, yaitu kajian linguistis dan sosiologis. Kajian pertama lazim disebut tipologi formal,sedangkan yang lain lazim disebut tipologi fungsional. Perian berikut memusatkan diri pada tipologi fungsional atau disebut juga tipologi sosiolinguistik. Tipologi fungsional didasarkan atas asumsi bahwa bahasa-bahasa dapat dibedakan berdasarkan atribut yang memiliki kecenderungan tetap yang berhubungan dengan sikap-sikap sosial terhadap bahasa-bahasa tersebut.

Parameter Stewart

        Parameter model stewart ini menggunakan atribut standarisasi, vitalitas, historis, dan otonomi dalam membedakan tipe-tipe bahasa yang ada.
1. Standarisasi merupakan ukuran normative yang harus dimiliki, dihimpun, dan diterima serta dipakai sebagai basis dalam pengajaran bahasa secara formal oleh masyarakat tuturnya.
2. Vitalitas atau keterpakaian. Vitalitas adalah pemakaian sistem bahasa oleh masyarakat tutur asli yang tidak terisolasi.
3. Historitas atau kesejarahan. Sistem bahasa dianggap memiliki historis karena dipercayai, sistem bahasa itu merupakan sebagai hasil perkembangan normal pada masa yang lalu.
4. Otonomi atau kemandirian. Sistem bahasa yang memiliki kemandirian sistem dan tidak berkaitan dengan bahasa lain disebut otonomi.

Tipe Bahasa
        Bahasa standar adalah bahasa yang memiliki atribut standarisasi, vitalitas, historis dan otonomi, misalnya : bahasa Indonesia, bahasa inggris, bahasa arab dan lain sebagainya. Bahasa klasik adalah bahasa yang memiliki atribut standarisasi ,historitas dan otonomi, tetapi tidak memiliki vitalitas, misalnya bahasa sangsekerta, latin dan lain sebagainya. Bahasa vernankular adalah bahasa yang memiliki atribut vitalitas, historis, dan otonomi, tetapi tidak memiliki atribut standarisasi, misalnya bahasa pribumi eropa pada abad pertengahan yang dipakai sebagai lingua franca di seluruh eropa, dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang belum dimodifikasikan. Dialek memiliki atribut vitalitas dan historis, tetapi tidak memilki standarisasi dan otonomi, memiliki atribut vitalitas, serta memiliki atau tidak memiliki historis. Kreol merupakan perkembangan dari pijin. Pijin merupakan bahasa yang tidak memiliki atribut standarisasi,vitalitas, historis, dan otonomi. Pijin terbentuk secara alami dalam suatu kontak sosial antara penutur –mitratutur yang masing-masing memiliki bahasa ibu. Adapun yang terakhir adalah artificial, yaitu bahasa yang memiliki atribut standarisasi dan otonomi, tetapi tidak memiliki atribut vitalitas dan historis, misalnya bahasa Esperanto, solresol, volapuk, interlingua dan novial.

Parameter Sikap Politik

       Berdasar pada parameter sikap politik atau sosial politik, tipe variasi dapat berupa bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa Negara dan bahasa persatuan. Keempat tipe variasi bahasa itu dapat mengacu pada sistem bahasa yang sama misalnya bahasa Indonesia yang terjadi sekarang ini di Indonesia atau pada sistem bahasa yang berbeda, seperti yang terjadi di india, Filipina dan Singapura. Sistem bahasa yang diangkat sebagai salah satu identitas kenasionalan bahasa lazim disebut bahasa nasional atau disebut juga bahasa kebangsaan. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu diangkat sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia,bahasa Filipino di angkat sebagai bahasa nasional Filipina, bahasa Malaysia diangkat sebagai bahasa nasional bangsa Malaysia, dan bahasa melayu diangkat sebagai bahasa nasional Singapura. Pengankatan sistem bahasa menjadi bahasa nasional tidaklah seragam dalam proses pengankatan.

Parameter Pemerolehan Bahasa
        Berdasar pada parameter pemerolehan bahasa dapat dibedakan atas tipe bahasa: bahasa ibu, bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing. Baik bahasa ibu maupun bahasa pertama mengacu pada satu sistem bahasa yang sama, oleh karena itu bahasa ibu lazim disebut bahasa pertama. Dengan demikian sistem bahasa pertama yang dipelajari secara alamiah dari orang tua kepada anak dalam kehidupan berkeluarga lazim disebut bahasa ibu dan sekaligus bahasa pertama. Setelah itu, jika anak itu mempelajari bahasa lain selain bahasa ibunya disebut bahasa kedua, ketiga dan seterusnya. Sebagian besar bahasa pertama anak Indonesia adalah bahasa daerahnya masing-masing, misalnya Jawa, Madura, Sunda, Bali, Sasak dan lain sebagainya, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua, sebaliknya, anak-anak perkotaan di Indonesia berbahasa pertama atau bahasa ibu bahasa Indonesia dan bahasa asing (inggris dan arab) sebagai bahasa kedua bagi mereka. Oleh sebab itu, bahasa kedua dapat mengacu pada sistem bahasa Indonesia, daerah atau bahasa inggris, arab, perancis dan lain sebagainya. Istilah bahasa asing cenderung mengacu bahasa yang digunakan bangsa lain, oleh sebab itu istilah bahasa asing bersifat pilitis, bukan linguistis.

Comments

Popular posts from this blog

Analisis unsur intrinsik puisi negaraku indonesia

CONTOH RPP K13 SMA

Biografi Plato, Plato Sebagai Filsuf